PRAKTIK BAIK PEMBELAJARAN MENDALAM MATA PELAJARAN BAHASA INGGRIS DI SMK WUJUDKAN LULUSAN YANG KOMPETEN

PRAKTIK BAIK PEMBELAJARAN MENDALAM MATA PELAJARAN BAHASA INGGRIS DI SMK WUJUDKAN LULUSAN YANG KOMPETEN

Siti Arifatun Nisak, S.S.
SMK Negeri 5 Surakarta

Cita-cita Pendidikan di Indonesia termaktub dalam Undang Undang Dasar 1945. Didalam Pasal 31 Undang-Undang Dasar 1945 tentang Pendidikan, berikut adalah bunyi ayat 1 dan 2. Ayat (1): “Setiap warga negara berhak mendapat pendidikan.” Ayat (2): “Setiap warga negara wajib mengikuti pendidikan dasar dan pemerintah wajib membiayainya”. Inilah yang menjadi dasar kuat bahwa pendidikan adalah prioritas utama dalam kehidupan seorang anak.

Pendidikan sekolah menengah, SMA dan SMK Negeri di provinsi Jawa Tengah dibiayai oleh dana BOS dan BOP, sehingga semua siswa SMA dan SMK dapat memperoleh Pendidikan beserta fasilitasnya secara gratis tanpa biaya apapun. Dengan ini diharapkan tidak ada anak yang putus sekolah. Tugas mereka hanya belajar dengan baik, mengikuti semua pembelajaran di sekolah dan mematuhi peraturan sekolah sehingga anak bisa menyelesaikan pendidikan sekolah menengah. Bagi orangtua, dengan adanya kebijakan ini, orang tua tidak terbebani dengan sejumlah biaya pendidikan, tidak ada lagi uang gedung atau uang awal masuk sekolah, tidak ada lagi uang SPP tiap bulan dan tidak ada pungutan apapun, bahkan untuk bukupun siswa bisa meminjam dari perpustakaan. Orang tua diharapkan memberi support penuh kepada anak, jangan sampai anak putus sekolah dan lulus dengan nilai terbaik.

Sekolah Menengah Kejuruan mempunyai 10 bidang keahlian dan puluhan program keahlian atau jurusan. Dari berbagai program keahlian di SMK, sekolah ini mampu mencetak para lulusannya dalam tiga pilihan. Apa yang akan dilakukan setelah lulus SMK dikenal luas dengan kata BMW, Bekerja, Melanjutkan, Wirausaha. Konsep ini adalah target utama profil lulusan Sekolah Menengah Kejuruan agar siap bersaing dan mandiri setelah lulus.

Direktorat SMK menyatakan bahwa “Riset dan data Tracer Study nasional untuk lulusan SMK 2025 menunjukkan persentase kelulusan terbagi menjadi 47,63% bekerja, 20,40% wirausaha, dan 13,37% melanjutkan Pendidikan atau kuliah. Sisanya terbagi dalam kegiatan lain atau masih dalam masa tunggu pencarian kerja.”

Prosentase tertinggi lulusan SMK adalah bekerja. Sebagai sekolah pencetak tenaga kerja siap pakai di masa depan, SMK dituntut untuk tidak hanya membekali peserta didik dengan keterampilan teknis (hard skills), tetapi juga kecakapan global. Di sinilah mata pelajaran Bahasa Inggris mengambil peran strategis.

Bahasa Inggris di SMK Fase F tingkat XII bukan sekadar tentang rumus tata Bahasa (grammar) dan hafalan kosakata (vocabulary). Lebih dari itu, Bahasa Inggris adalah alat produksi, alat komunikasi, bahkan sebagai instrumen negosiasi. Kemampuan Bahasa Inggris yang baik akan membuka kesempatan dan peluang kerja lebih besar daripada mereka yang tidak mempunyai kemampuan Bahasa Inggris dengan baik. Dengan menerapkan Pembelajaran Mendalam (Deep Learning) diharapkan siswa mempunyai kemampuan Bahasa Inggris yang lebih baik.

Mengimplementasikan Deep Learning di SMK tidak semudah membalikkan telapak tangan. Guru seringkali dihadapkan pada beberapa kendala. Kendala yang pertama yakni rendahnya input kemampuan bahasa Inggris siswa. Banyak siswa memasuki Fase F dengan kemampuan dasar yang masih minim. Mereka minim dalam kosakata sehingga tidak mampu untuk memproduksi kalimat dengan baik. Minimnya Kosakata ini disebabkan oleh siswa tidak mau untuk mengupgrade atau menambah kosakata setiap harinya. Kunci dari bisa berbahasa adalah mempunyai kosakata yang banyak. Semakin banyak kosakata yang dimiliki, semakin mampu untuk menguasai Bahasa.

Kendala yang kedua yakni siswa terkadang kurang memahami istilah teknis di bidang produktif SMK. Banyak istilah-istilah baru di program keahlian. Setiap program keahlian mempunyai istilah teknis yang berbeda. Bahasa Inggris di SMK menerapkan English for Specific Purposes, yakni istilah istilah teknis yang membutuhkan kamus tersendiri.

Penulis merupakan salah satu pengajar Bahasa Inggris di SMK Negeri 5 Surakarta. Sekolah ini merupakan sekolah teknik dengan 9 program keahlian. Bahasa Inggris diajarkan di semua program keahlian dengan durasi waktu seminggu 2 kali pertemuan atau 4 jam pembelajaran. Dari berbagai kendala tersebut, penulis menerapkan metode scaffolding atau menerapkan metode pemberian bantuan secara bertahap.

Dalam sebuah artikel menyatakan bahwa pembelajaran scaffolding sebagai metode mengajar “Pembelajaran Scaffolding adalah metode mengajar dengan cara menyesuaikan tingkat dukungan guru agar sesuai dengan potensi kognitif seorang murid. Dengan begitu, ketika di dalam kelas guru dapat menyesuaikan tingkat bimbingannya dengan potensi masing-masing siswa.”

Pada tahap pertama siswa diberikan beberapa kosakata tentang benda bengkel, untuk memudahkan menghafal nama benda tersebut, guru menampilkan gambar gambar benda bengkel. Siswa melihat benda bengkel yang ditunjukkan oleh guru, kemudian membaca tulisan nama benda dan mengucapkan nama benda tersebut dalam bahasa Indonesia dan bahasa Inggris. Pada tahap ini siswa belajar mengingat dan pengucapan (pronounciation). Jika ada pengucapan yang salah, guru akan memberi contoh bagaimana cara pengucapan yang benar.

Tahap kedua adalah kolaborasi. Siswa bekerja dalam kelompok. Satu kelas terdiri dari 36 siswa. Dari jumlah tersebut terbentuk 9 kelompok, masing masing kelompok terdiri dari 4 siswa. Pemilihan anggota kelompok ditentukan oleh siswa sendiri. Hal ini bertujuan agar siswa merasa nyaman dalam berkomunikasi dan diskusi dalam kelompok. Setiap kelompok diberi 5 gambar benda bengkel. Siswa menuliskan jawaban pada selembar kertas A1, siswa mulai menulis nama benda dalam Bahasa Indonesia dan Bahasa Inggris.

Tahap ketiga adalah tahap produksi dan konstruksi makna. Guru memberikan beberapa pertanyaan pemantik yakni “Apa fungsi benda tersebut? Kapan kalian menggunakan benda tersebut? Dimana kalian menjumpai benda tersebut? Bagaimana cara menggunakan benda tersebut?”. Pada tahap ini siswa mulai menyusun kalimat-kalimat bahasa Inggris. Jika menemui kesulitan kosakata, siswa diperbolehkan membuka kamus Bahasa Inggris. Guru berkeliling di setiap kelompok untuk memantau progress hasil kerja kelompok dan memberikan bantuan jika ada kelompok yang kesulitan menyusun kalimat.

Tahap keempat adalah presentasi. Setiap kelompok diberikan kesempatan untuk melakukan presentasi di kelas. Durasi waktu presentasi setiap kelompok maksimal sepuluh menit. Setiap siswa harus mampu mengucapkan kalimat-kalimat Bahasa Inggris di depan kelas. Kelompok yang tidak presentasi diwajibkan memberikan pertanyaan. Cara ini melatih siswa percaya diri untuk berbahasa Inggris di depan teman temannya.

Sebagai penutup pembelajaran, guru memberikan umpan balik (feedback) dari presentasi setiap kelompok. Guru memberikan arahan spesifik tentang apa dan bagaimana langkah yang harus dilakukan siswa untuk memperbaikinya. Umpan balik ini sebagai kesempatan untuk terus belajar dan berkembang.

Beberapa manfaat dari penerapan metode scaffolding diantaranya: suasana lingkungan belajar menjadi lebih suportif. Siswa merasa nyaman dan bebas dalam mengemukakan pendapat, memberikan beberapa pertanyaan dan mendukung teman sekelasnya dalam pembelajaran. Siswa merasa terlibat dalam pembelajaran dan termotivasi untuk belajar. Ruang kelas bukanlah tempat yang menyesakkan. Dari ruangan berukuran 8×9 meter itulah, siswa tidak merasa terkekang dengan kondisi ruang, ruang kelas hanyalah sekat antar ruang, ruang kelas menjadi nyaman dan disitulah masa depan siswa sedang dipertaruhkan dan dibentuk.

Guru menjadi lebih berperan sebagai mentor maupun fasilitator pembelajaran, atau dikenal dengan istilah student centered. Siswa merupakan subjek pembelajaran bukan objek pembelajaran. Siswa diberikan kebebasan untuk berperan aktif dalam pembelajaran. Siswa menjadi lebih berkembang. Penambahan kosakata baru bisa diperoleh dari teman-temannya. Selain itu, siswa lebih bertanggung jawab.

Kolaborasi antar guru (Teacher Collaboration) antara Bahasa Inggris dan guru program keahlian diperlukan untuk menambah wawasan tentang benda bengkel. Guru Bahasa Inggris harus aktif berdiskusi untuk menyelaraskan materi teks dengan proyek yang sedang dikerjakan siswa di bengkel atau laboratorium program keahlian. Saling bertukar informasi tentang pembelajaran.

Dengan berbagai cara ini, para lulusan SMK yang ingin bekerja telah dipersiapkan dengan matang untuk bisa berkomunikasi dalam Bahasa Inggris. Pada iklan lowongan pekerjaan banyak perusahaan yang mencantumkan bisa berbahasa Inggris pasif dan aktif sebagai persyaratan. Pada saat tes wawancara, biasanya dari pihak perusahaan meminta pelamar untuk memperkenalkan diri dengan Bahasa inggris. Terlebih pada industri manufaktur, beberapa perusahaan asing di Indonesia menuntut para calon karyawan mereka mampu berbahasa Bahasa Inggris aktif dan pasif.

Para lulusan yang memilih untuk melanjutkan perguruan tinggi, mereka sudah mempunyai bekal serta kesiapan diri guna memasuki dunia perkuliahan. Penambahan kosakata yang dilakukan saat SMK sangat membantu untuk mengerjakan soal Bahasa Inggris khususnya reading dimana Bahasa inggris memiliki dampak jangka Panjang untuk masa depan yang dimulai dengan siswa mengikuti seleksi masuk perguruan tinggi hingga menjumpai buku referensi, jurnal, modul pembelajaran yang Sebagian besar menggunakan kosakata Bahasa inggris. Pemahaman siswa juga meningkat dengan adanya bekal tersebut mengingat siswa telah mempelajari dan akrab dengan Bahasa inggris terlebih pada peningkatan kemajuan karir siswa setelah lulus dari perguruan tinggi kedepannya. Pada proses rekrutmen karyawan setelah lulus kuliah, kemampuan berbahasa inggris menjadi faktor pendukung untuk meraih jenjang karir yang signifikan pada sebuah industri dan instansi.

Jika para lulusan SMK ingin berwirausaha, mereka sudah memiliki bekal yang cukup untuk berkomunikasi dengan kolega, karena selama belajar di SMK mereka telah terbiasa melakukan presentasi di kelas. Tidak menutup kemungkinan mereka mampu mengembangkan usahanya ke luar negeri. Peluang usaha menjadi lebih luas dengan membangun relasi jika melakukan wirausaha dengan cara mengekspor produk yang dimiliki. Dari sinilah, wirausaha yang melakukan kegiatan ekspor dengan mudah memasarkan produk, berinovasi, hingga mengembangkan teknologi pasar. Jika mengamati tren global yang sedang berlangsung, para wirausaha di era saat ini harus bersaing dengan ribuan hingga jutaan competitor untuk menarik pelanggan sehingga kemampuan berkomunikasi dengan Bahasa Inggris menjadi anjuran para wirausahawan untuk meningkatkan peluang keberhasilan usaha di tengah persaingan global.

Bahasa Inggris adalah Bahasa Internasional. Semua siswa diharapkan mampu berbahasa Inggris dengan baik. Bahasa Inggris merupakan bekal siswa untuk kehidupan dimasa mendatang. Dengan pembelajaran Deep Learning siswa mampu bernegosiasi dan mempresentasikan inovasi mereka dalam Bahasa Inggris tanpa rasa rendah diri. Mereka tidak akan menjadi pekerja murah di negeri sendiri karena mereka mempunyai kemampuan lebih. Sebaliknya, mereka memiliki posisi tawar (bargaining power) yang kuat untuk mempertahankan hak, kekayaan intelektual, dan kedaulatan ekonomi bangsa di kancah perundingan internasional. Mereka juga mempunyai daya saing untuk bekerja di Luar Negeri.

Kehidupan sejahtera, berawal dari pendidikan yang baik.

#Lombaartikelguru
#ArtikelprotasGTK
#Gurumenulis

Leave a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *